SEMARANG — Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang kembali melepas para lulusan terbaiknya melalui agenda “Yudisium & Pembekalan Calon Wisudawan S.1 ke-100 dan S.2 ke-67 Periode Mei 2026”. Acara yang dihelat di Aula Gedung Q FUHUM pada Kamis (21/5/2026) ini dirancang khusus untuk mendorong para calon wisudawan agar matang dalam mempersiapkan masa depan karier mereka sejak dini.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan fakultas, di antaranya Dekan FUHUM Dr. Mokh. Sya’roni, M.Ag., Wakil Dekan I Prof. Dr. Moh Nor Ichwan, M.Ag., Wakil Dekan II H. Sukendar, MA., Ph.D., Wakil Dekan III Dr. Hj. Sri Purwaningsih, M.Ag., serta Kepala Bagian Umum Dr. Samidi, M.Si. Kehadiran para pimpinan ini menjadi bentuk dukungan penuh fakultas terhadap langkah awal para sarjana dan magister baru.
Untuk memastikan kesiapan lulusan, acara ini menghadirkan dua narasumber ahli yang menyoroti aspek psikologis dan strategis dalam meniti karier. Sesi pertama diisi oleh Siti Afriyanti, S.Psi.I., yang membawakan materi bertajuk “Spiritual Intelligence sebagai Kunci Sukses Karier”. Dalam sesinya, ia menekankan bahwa kecerdasan intelektual (IQ) harus diimbangi dengan kecerdasan spiritual (SQ). Menurutnya, fondasi spiritual yang kuat akan membantu para lulusan dalam menjaga integritas, ketangguhan mental, dan ketenangan batin saat menghadapi kerasnya dinamika dunia kerja.
Sesi pembekalan kemudian dilanjutkan oleh Nasrul Fahmi Zaki Fuadi, M.Si., dengan fokus pemaparan pada “Informasi dan Teknis Pengisian Tracer Study”. Menghubungkan pentingnya pendataan alumni dengan realitas dunia kerja, Nasrul membedah tantangan nyata yang menanti para lulusan setelah melepas toga. Ia mengingatkan bahwa lulusan umumnya akan dihadapkan pada empat pilihan utama: bekerja, berwirausaha, melanjutkan studi, atau menikah.
Dalam pemaparannya, Nasrul menekankan sebuah metafora penting mengenai esensi persiapan karier pasca-kampus. Ia mengingatkan bahwa selebar ijazah barulah langkah awal, bukan penentu mutlak kecepatan seseorang dalam meraih kesuksesan.
“Ijazah adalah tiket, sementara jejaring alumni adalah jalan tol. Oleh karena itu, persiapkan masa depan karier Anda sejak sekarang,” tegas Nasrul di hadapan para calon wisudawan.
Ia menjelaskan bahwa tingginya nilai di atas kertas belum cukup menjadi jaminan, karena faktanya sebanyak 77 persen kesuksesan karier ditentukan oleh networking atau relasi, bukan sekadar IPK. Fenomena hidden job market—situasi di mana banyak peluang kerja strategis yang justru tidak dipublikasikan secara terbuka—menjadi alasan kuat mengapa jalur “jalan tol” jejaring alumni ini harus dimanfaatkan secara optimal.
Oleh karena itu, Nasrul menggarisbawahi bahwa pengisian Tracer Study bukanlah sekadar rutinitas administratif kampus, melainkan instrumen krusial untuk merawat ekosistem relasi tersebut. Dengan menjalin komunikasi dan kerjasama yang kuat melalui data pelacakan alumni yang akurat, lulusan baru dapat lebih mudah mengakses peluang-peluang strategis di dunia profesional.
Rangkaian acara yang sarat akan ilmu ini dipandu oleh moderator Kirana Nur Lyansari, M.A. Sebagai bentuk apresiasi atas antusiasme peserta, PPMMA UIN Walisongo turut membagikan doorprize berupa e-emas BSI seberat 0,05 gram kepada tiga mahasiswa yang tampil paling interaktif selama acara berlangsung.
Melalui yudisium dan pembekalan yang komprehensif ini, FUHUM UIN Walisongo berharap para lulusannya tidak hanya mumpuni secara keilmuan, tetapi juga memiliki mentalitas tangguh dan strategi jitu untuk langsung tancap gas di dunia kerja.