Banyak mahasiswa ingin punya penghasilan sendiri tapi merasa terhalang modal. Padahal di era digital, langkah pertama bisa dimulai dari barang yang sudah ada di saku: ponsel dan kuota internet. Artikel ini merangkum tips bisnis online untuk mahasiswa dari pengalaman Uswatul Khoeriyah, A.Md., alumni D3 Perbankan Syariah UIN Walisongo yang merintis Eryz Scarf dari tugas mata kuliah Kewirausahaan pada akhir 2015. Kini usahanya sudah punya toko pusat dan toko cabang di Kendal.
Materi ini ia sampaikan dalam Entrepreneurship & Digital Branding 2026 yang digelar Walisongo Career Center (WCC) UIN Walisongo pada 23 Oktober 2026. Kami melengkapinya dengan data dan panduan praktis dari sumber lain agar bisa langsung kamu terapkan.
Apa Itu Bisnis Digital?
Bisnis digital adalah bisnis yang memanfaatkan teknologi digital dan internet di berbagai aspeknya: pemasaran, fasilitas penjualan, hingga layanan pelanggan. Menurut Uswatul, bisnis digital bukan sekadar alat, tetapi strategi bisnis. Artinya, media sosial dan marketplace tidak cukup hanya “dipakai”. Keduanya perlu direncanakan sebagai bagian dari cara usaha tumbuh.
Mengapa Bisnis Online Cocok untuk Mahasiswa dan Gen Z?
Bisnis online punya sejumlah kelebihan yang membuatnya ramah bagi pemula:
- Biaya rendah. Tidak perlu menyewa toko atau menyetok barang dalam jumlah besar di awal.
- Jangkauan pasar lebih luas. Pembeli bisa datang dari kota lain, bahkan luar negeri.
- Praktis dan fleksibel. Bisa dijalankan di sela jadwal kuliah.
- Mudah menjangkau pelanggan baru. Satu konten yang tepat bisa dilihat ribuan orang.
- Terus berkembang. Bisnis digital adalah tren masa depan yang membuka peluang kerja di banyak sektor.
Datanya pun mendukung. Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat jumlah transaksi video commerce di Indonesia melonjak 90% menjadi 2,6 miliar transaksi. Jumlah penjual yang memasarkan produk lewat video juga naik 75% menjadi sekitar 800 ribu. Fashion dan aksesoris menjadi kategori terbesar dengan porsi 28% dari nilai transaksi video commerce. Survei Jakpat pada semester kedua 2024 juga menemukan sembilan dari sepuluh responden Gen Z pernah menonton live shopping, dan 62% di antaranya pernah membeli lewat live.
Generasi Z sendiri punya modal bawaan untuk berbisnis online. Mereka lahir di era digital (digital native), berpikiran terbuka, menyukai fleksibilitas, terbiasa dengan hal yang serba cepat, dan berorientasi pada stabilitas finansial. Karakter ini sejalan dengan cara kerja bisnis online.
8 Tips Bisnis Online untuk Mahasiswa
1. Mulai dari riset pasar dan pilih produk yang tepat
Sebelum berjualan, kenali dulu kebutuhan konsumen dan pelajari kompetitor. Lihat produk apa yang banyak dicari, berapa kisaran harganya, dan apa yang belum dipenuhi penjual lain. Cara sederhananya: ketik kata kunci produk di marketplace, urutkan berdasarkan “terlaris”, lalu baca ulasan pembeli. Keluhan di kolom ulasan sering kali menjadi ide pembeda produkmu.
Dari situ tentukan model bisnismu: menjual produk sendiri, menjadi reseller, ecer, grosir, atau melayani pesanan partai besar. Eryz Scarf, misalnya, melayani pembelian ecer, grosir, seragam, hingga partai.
2. Tentukan target audiens sejelas mungkin
Jangan menjual untuk “semua orang”. Petakan calon pembelimu berdasarkan jenis kelamin, usia, hobi, dan kebiasaan belanja. Pahami juga sisi psikologis mereka. Orang membeli karena merasa cocok, merasa butuh, atau karena tergiur diskon dan promo. Mengetahui alasan ini membantumu menyusun pesan jualan yang tepat.
3. Bangun merek, bukan sekadar berjualan
Pilih nama usaha yang mudah diingat dan dicari, lalu gunakan secara konsisten di semua akun. Samakan foto profil, gaya foto produk, dan nada bahasa. Pembeli yang sudah mengenali mereknya akan lebih mudah percaya dan kembali membeli. Uswatul membangun dua identitas sekaligus: akun usaha (@grosirjilbabkendal dan Eryz Scarf) serta akun pribadinya sebagai kreator (@uswakhoeriyah). Keduanya saling menguatkan.
4. Buat konten yang menarik dan punya pembeda
Di dunia online, konten adalah etalase toko. Perhatikan tiga hal berikut:
- Visual menarik: foto dan video produk yang jelas, rapi, dan konsisten. Cahaya alami dan latar polos sudah cukup untuk memulai.
- Nilai tambah produk: tunjukkan apa yang membuat produkmu berbeda, seperti kualitas bahan, model, harga, atau layanan.
- Strategi promosi: rencanakan kapan dan bagaimana promosi dijalankan. Untuk produk fashion muslim, Ramadan biasanya menjadi musim paling ramai, jadi siapkan stok dan konten jauh hari.
Karena video commerce sedang tumbuh pesat, biasakan membuat video pendek: cara memakai produk, perbandingan warna, atau proses pengemasan pesanan.
5. Pilih platform penjualan yang sesuai
Ada tiga kanal utama yang bisa dikombinasikan:
- Marketplace seperti Shopee dan Tokopedia, untuk menjangkau pembeli yang memang sedang mencari produk.
- Media sosial dan live streaming, untuk membangun kedekatan dan menjual secara langsung.
- Website atau platform digital sendiri, untuk memperkuat identitas merek.
Tidak harus langsung semuanya. Mulailah dari satu kanal yang paling kamu kuasai, lalu kembangkan bertahap seperti yang dilakukan Eryz Scarf: dari marketplace, ke endorsement, ke TikTok Shop dan live.
6. Manfaatkan kekuatan influencer, live, dan affiliate
Perjalanan Eryz Scarf menunjukkan bahwa kolaborasi bisa mempercepat pertumbuhan. Pada 2018 Uswatul mulai beriklan lewat endorsement selebgram dan artis. Ia kemudian merambah TikTok Shop dan aktif sebagai kreator serta affiliator live Shopee, hingga diundang ke Shopee Super Summit 2025 di Jakarta.
Untuk pemula, pilih influencer yang audiensnya sesuai target pasarmu, bukan sekadar yang pengikutnya paling banyak. Akun kecil dengan pengikut yang loyal sering kali lebih efektif dan lebih terjangkau. Bagi mahasiswa yang belum punya produk sendiri, program affiliate bisa menjadi cara belajar berjualan online tanpa modal: kamu mempromosikan produk orang lain dan mendapat komisi dari setiap penjualan.
7. Kelola keuangan sejak hari pertama
Banyak usaha kecil tumbang bukan karena sepi pembeli, tetapi karena keuangannya tercampur. Biasakan tiga hal ini:
- Hitung harga pokok dengan benar. Masukkan semua biaya: harga barang, kemasan, ongkos kirim yang ditanggung, potongan biaya marketplace, dan biaya iklan. Baru setelah itu tentukan margin keuntungan.
- Pisahkan uang pribadi dan uang usaha. Gunakan rekening atau dompet digital terpisah, dan beri dirimu “gaji” yang jelas.
- Catat setiap transaksi. Aplikasi pencatatan gratis atau spreadsheet sederhana sudah cukup. Catatan ini akan sangat membantu saat kamu mengajukan pendanaan atau mengikuti kompetisi wirausaha.
Sebagai mahasiswa ekonomi syariah, jadikan kejujuran sebagai nilai jual: deskripsi produk sesuai kenyataan, harga transparan, dan tidak menjanjikan hal yang tidak bisa dipenuhi.
8. Kelola pesanan dan evaluasi secara rutin
Bisnis online tidak berhenti setelah produk terjual. Layani pelanggan dengan cepat dan ramah, kirim pesanan tepat waktu, lalu pelajari data penjualan: produk mana yang paling laku, kapan penjualan ramai, dan konten mana yang paling banyak mendatangkan pembeli. Data inilah dasar keputusan berikutnya.
Cara Menjaga Pelanggan Tetap Setia
Mendapatkan pelanggan baru itu penting, tetapi membuat mereka kembali membeli jauh lebih berharga. Uswatul membagikan tujuh caranya:
- Memahami pelanggan.
- Menjaga kualitas produk.
- Memberikan pelayanan yang baik.
- Memberikan cashback atau hadiah.
- Memberikan voucher belanja.
- Membuat penawaran dan diskon.
- Bersikap komunikatif terhadap pelanggan.
Urus Legalitas Usaha Sejak Awal
Usaha yang legal lebih dipercaya pembeli, mitra, dan lembaga pembiayaan. Langkah pertama yang bisa dilakukan mahasiswa adalah mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) secara online di oss.go.id. Sejak awal 2026, pemerintah mempermudah pengurusan NIB untuk usaha mikro lewat mekanisme pernyataan mandiri. Pelaku usaha cukup mengisi data administrasi, alamat usaha, luas lahan, titik koordinat lokasi, dan foto tampak depan tempat usaha.
Jika kamu berjualan produk fashion muslim seperti jilbab dan gamis, pantau juga aturan jaminan produk halal. Produk sandang termasuk kategori yang diatur, dan jadwal kewajibannya sedang disesuaikan pemerintah pada Oktober 2026. Ikuti informasi resmi dari BPJPH dan manfaatkan program sertifikasi halal gratis bagi usaha mikro dan kecil melalui SiHalal.
Membagi Waktu antara Kuliah dan Usaha
Uswatul membuktikan bahwa usaha bisa dirintis sambil kuliah. Kuncinya ada pada pengaturan waktu:
- Tetapkan jam kerja usaha yang tetap, misalnya membalas chat dan memproses pesanan di jam tertentu setiap hari.
- Buat konten sekaligus untuk satu minggu (batch), lalu jadwalkan unggahannya.
- Gunakan fitur balasan otomatis di marketplace dan WhatsApp Business saat sedang kuliah.
- Jadikan usaha sebagai bahan belajar: tugas kewirausahaan, pemasaran, atau akuntansi bisa memakai data usahamu sendiri.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula
- Langsung menyetok barang dalam jumlah besar sebelum menguji pasar.
- Menetapkan harga terlalu murah tanpa menghitung semua biaya.
- Mencampur uang usaha dengan uang jajan.
- Berjualan di terlalu banyak platform sekaligus sehingga tidak ada yang terurus.
- Hanya mengejar penjualan baru dan melupakan pelanggan lama.
- Berhenti terlalu cepat ketika penjualan belum sesuai harapan.
Perjalanan Eryz Scarf: Bukti Bahwa Proses Tidak Bisa Dicuri
Kisah Uswatul menunjukkan bahwa usaha besar bisa tumbuh dari langkah kecil yang dijalankan konsisten:
- 2015: mulai berjualan dari tugas mata kuliah Kewirausahaan, bermodal HP Android dan kuota.
- 2017: membuka toko di marketplace dan melayani pengiriman ke luar negeri.
- 2018: mulai beriklan lewat endorsement selebgram dan artis.
- 2019: membuka toko offline pertama.
- 2020: menghadapi ujian pandemi COVID-19.
- 2021: pesanan Shopee tembus lebih dari 100 per hari, merambah TikTok Shop, dan membuka loket ekspedisi.
- 2023: meraih Juara 1 Kompetisi Wirausaha Muda Pemula Prakualifikasi Teknopreneur Kabupaten Kendal.
- 2025: diundang ke Shopee Super Summit di Jakarta sebagai kreator.
- 2026: membuka toko pusat baru di Ngampel (Januari) dan toko cabang di Kaliwungu (September).
Pesannya untuk mahasiswa: jangan remehkan proses perkuliahan, apa pun bentuknya. Tugas yang tampak sederhana bisa menjadi pintu awal sebuah usaha.
“Mulailah dari yang kita bisa, ambil peluang yang ada, ciptakan pembeda, tak henti berinovasi dan mengembangkannya.”
Ia juga mengingatkan bahwa ide bisa saja ditiru orang lain, tetapi tidak ada yang bisa mencuri aksi dan proses kita. Create your value!
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah mahasiswa bisa memulai bisnis online tanpa modal?
Bisa. Langkah awal dapat dimulai dengan ponsel dan kuota internet, misalnya lewat program affiliate atau menjadi reseller sebelum memproduksi barang sendiri.
Platform apa yang paling cocok untuk pemula?
Pilih platform yang paling sering dipakai calon pembelimu. Marketplace cocok untuk menjangkau pembeli yang sedang mencari produk, sedangkan media sosial dan live cocok untuk membangun kedekatan dengan audiens.
Apakah usaha mahasiswa perlu NIB?
Sangat disarankan. NIB bisa diurus online di OSS, dan usaha mikro kini cukup menggunakan pernyataan mandiri. NIB membuat usahamu lebih dipercaya dan membuka akses ke program pembinaan maupun pembiayaan.
Bagaimana cara menentukan harga jual?
Jumlahkan semua biaya per produk, yaitu harga barang, kemasan, biaya marketplace, ongkos kirim yang ditanggung, dan iklan, lalu tambahkan margin keuntungan. Bandingkan juga dengan harga kompetitor agar tetap bersaing.
Bagaimana cara membuat produk berbeda dari kompetitor?
Lakukan analisis kompetitor, lalu tonjolkan nilai tambah produkmu, baik dari kualitas, desain, harga, maupun pelayanan, dan tampilkan lewat konten yang konsisten.
Bagaimana agar pembeli kembali lagi?
Jaga kualitas produk, layani dengan baik, tetap komunikatif, dan berikan apresiasi seperti voucher, cashback, atau diskon untuk pelanggan setia.
Ingin mendapat pendampingan bisnis atau berbagi pengalamanmu sebagai alumni? Ikuti kegiatan Walisongo Career Center dan pantau informasinya di wcc.walisongo.ac.id serta Instagram @wcc.official.
Referensi:
- Materi narasumber Uswatul Khoeriyah, A.Md., “Sukses Bisnis Online di Era Gen Z”, Entrepreneurship & Digital Branding 2026, WCC UIN Walisongo.
- Google, Temasek, dan Bain & Company, e-Conomy SEA 2025, sebagaimana diberitakan Kontan.co.id (13 November 2025).
- Jakpat, Indonesia E-commerce Trends – 2nd Semester of 2024, sebagaimana diberitakan Tirto.id.
- Bisnis.com, “Pemerintah Relaksasi Syarat NIB Usaha Mikro di OSS” (26 Februari 2026).