Semarang – Sebuah tugas kuliah bisa jadi titik awal sebuah usaha. Itulah kisah yang dibawa Uswatul Khoeriyah, A.Md., alumni D3 Perbankan Syariah UIN Walisongo Semarang lulusan 2016, saat menjadi narasumber Entrepreneurship & Digital Branding 2026. Acara ini digelar Walisongo Career Center (WCC) di Teater ICT Perpustakaan Kampus 3 UIN Walisongo Semarang pada Jumat (23/10/2026). Kegiatan bertema “From Campus Project to Hijab Brand Empire: The Power of Content & Influencer Strategy” ini berlangsung pukul 13.00–16.00 WIB dan diikuti mahasiswa serta alumni. Diskusi dipandu oleh Ketua Program Studi Ekonomi Islam, Sokhikhatul Mawadah, M.E.I., sebagai moderator.
Uswatul adalah founder dan owner Eryz Scarf by Grosir Jilbab Kendal, usaha fashion muslim asal Desa Kebonagung, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal. Di hadapan peserta, ia bercerita bahwa usahanya dimulai pada akhir 2015 dari sebuah tugas kuliah, saat ia masih tercatat sebagai mahasiswa. Waktu itu ia memulai dari nol rupiah, hanya dengan kuota internet dan sebuah ponsel Android.Uswatul adalah founder dan owner Eryz Scarf by Grosir Jilbab Kendal, usaha fashion muslim asal Desa Kebonagung, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal. Di hadapan peserta, ia bercerita bahwa usahanya dimulai pada akhir 2015 dari tugas mata kuliah Kewirausahaan yang diampu almarhum Dr. Choirul Huda, M.Ag. Waktu itu ia masih tercatat sebagai mahasiswa dan memulai dari nol rupiah, hanya dengan kuota internet dan sebuah ponsel Android. Tugas yang semula dikerjakan untuk memenuhi kewajiban kuliah itu ternyata terus ia jalankan hingga menjadi usaha yang bertahan sampai sekarang.
Dari kisah itu, Uswatul berpesan agar mahasiswa tidak meremehkan proses perkuliahan, apa pun bentuknya. Tugas yang terlihat sederhana, mata kuliah yang terasa biasa, atau praktik yang dikerjakan hanya demi nilai bisa menjadi pintu pembuka kesempatan besar jika ditekuni dengan sungguh-sungguh. Baginya, apa yang ia dapat di bangku kuliah menjadi bekal awal yang terus ia kembangkan di dunia usaha.
Sejak itu usahanya terus berkembang. Pada 2017 Eryz Scarf mulai melayani pengiriman ke luar negeri dan membuka toko di Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak. Tahun berikutnya ia mulai beriklan lewat endorsement selebgram dan artis, lalu pada 2019 membuka toko offline pertamanya. Ia juga bercerita tentang masa pandemi COVID-19 yang menguji usahanya. Pada 2021 pesanan di Shopee sudah tembus lebih dari 100 per hari. Di tahun yang sama ia merambah TikTok Shop dan membuka loket jasa ekspedisi.
Kerja kerasnya mendapat pengakuan. Pada 2023 Uswatul meraih Juara 1 Kompetisi Wirausaha Muda Pemula Prakualifikasi Teknopreneur Kabupaten Kendal yang diselenggarakan Disporapar Kendal. Penghargaannya diserahkan langsung oleh Bupati Kendal saat itu, Dico Ganinduto. Ia juga aktif sebagai kreator dan affiliator live Shopee untuk kategori fashion muslim serta mom & baby, dan diundang ke Shopee Super Summit 2025 di Jakarta sebagai kreator. Tahun 2026 menjadi tonggak baru: toko pusatnya pindah ke lokasi baru di Jl. Raya Ngampel dengan grand opening pada 17 Januari 2026, disusul toko cabang di Jl. Raya Plantaran, Kaliwungu, yang dibuka pada 20 September 2026. Kini Eryz Scarf menjual hijab instan, pashmina, hijab segi empat, hijab sekolah, gamis, pakaian, dan mukena. Pembeli bisa membeli eceran, grosir, maupun pesanan seragam.
Dalam materinya yang berjudul “Sukses Bisnis Online di Era Gen Z”, Uswatul menegaskan bahwa bisnis digital bukan sekadar alat, tetapi strategi bisnis. Menurutnya, generasi Z sebagai digital native punya modal besar untuk berbisnis online karena biayanya rendah, jangkauan pasarnya luas, dan waktunya fleksibel. Ia lalu membagikan strategi menjual secara online. Langkahnya dimulai dari riset pasar dan analisis kompetitor, lalu menentukan target audiens sampai memahami sisi psikologis pembeli. Setelah itu penjual perlu membuat konten dengan visual yang menarik dan nilai tambah produk, memanfaatkan endorsement dan affiliate, memilih platform penjualan yang tepat, serta mengelola pesanan dan layanan pelanggan. Untuk menjaga loyalitas konsumen, ia menekankan kualitas produk, pelayanan yang baik, komunikasi yang responsif, serta program cashback, voucher, dan diskon.
“Mulailah dari yang kita bisa, ambil peluang yang ada, ciptakan pembeda, tak henti berinovasi dan mengembangkannya,” pesan Uswatul kepada peserta. Ia juga mengingatkan bahwa ide bisa saja ditiru orang lain, tetapi aksi dan proses tidak bisa dicuri. “Create your value!” tegasnya.
Suasana seminar makin seru dengan giveaway “Buat Konten, Dapat Hadiah”. Peserta diajak membuat konten keseruan seminar di Reels Instagram, TikTok, atau Story/Feed Instagram. Satu pemenang mendapat uang tunai Rp100.000 dan tiga pemenang mendapat hijab gratis dari Eryz Scarf. Selain mendapat ilmu dan wawasan strategi bisnis digital, peserta juga memperoleh e-sertifikat dan kesempatan pendampingan bisnis.
Kehadiran Uswatul menjadi contoh nyata semangat “dari kampus, kembali ke kampus”. Ilmu dan pengalaman yang dulu ia mulai di bangku kuliah kini ia bawa pulang untuk adik-adik tingkatnya. Langkah ini sekaligus menjadi undangan bagi alumni UIN Walisongo lainnya. Kampus membuka pintu selebar-lebarnya bagi alumni dari berbagai bidang, baik pengusaha, profesional, maupun praktisi, untuk ikut berbagi pengalaman kepada mahasiswa dan sesama alumni. Melalui program Call for Presenter, WCC mengajak alumni mendaftar sebagai narasumber dan menjadi bagian dari ekosistem saling menguatkan antara kampus, mahasiswa, dan alumni.
Pengalaman satu alumni bisa menjadi inspirasi bagi ribuan mahasiswa. Kisah Uswatul membuktikan bahwa langkah kecil saat masih mahasiswa bisa tumbuh menjadi usaha yang berdampak, dan dampak itu makin besar ketika kembali dibagikan ke kampus.